Mendulang Faedah Basmalah

Posted: 8 Juni 2010 in Tauhid
Tag:, , , , , , , , , , , ,

Oleh : al-Ustadz Abu Ammar Al Ghoyami

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرِّحِيْمِ

“Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Maksud dari “Basmalah” “Basmalah adalah (ungkapan) seorang hamba yang mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim.” (Aisarut Tafasir 1/11, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, cet. Maktabatul Ulum wal Hikam, Madinah)

Jadi Basmalah adalah sebuah ungkapan, baik berbentuk ucapan maupun tulisan. Ia menunjuk pada sebuah ungkapan, bukan pada orang yang mengungkapkannya. Dan orang yang mengucapkan kalimat tersebut baik dengan lisan maupun tulisannya,berarti telah menyebut ungkapan basmalah.

Makna Berbasmalah
Basmalah diucapkan atau dituliskan oleh orang yang mengungkapkannya bukan tanpa maksud dan tujuan. Layaknya kalimat-kalimat thoyibah yang diajarkan oleh Alloh dalam kitab-Nya maupun melalui sunah-sunah rosul-Nya pun tidak begitu saja diungkapkan tanpa maksud, tapi sangat sarat dengan maksud dan tujuan yang mulia.

Seseorang yang mengungkapkannya berarti seolah ia telah mengucapkan dan bermaksud dengan ucapnnya tadi bahwa ia hendak memulai aktivitasnya dengan menyebut nama Alloh serta mengingat-Nya dengan berharap keberkahan-Nya, sebelum melakukan kegiatan apa pun, dan dengan senantiasa memohon pertolonganNya dalam segala urusannya, mengharap bantuan-Nya, sebab Alloh adalah Dzat yang Maha kuasa melakukan segala yang dikehendakinya.

Sehingga tatkala seseorang hendak membaca al Qur’an dia berbasmalah, maka maknanya adalah aku mengawali bacaanku dengan memohon keberkahan nama Alloh yang maha pemurah lagi maha penyayang dengan senantiasa memohon pertolongan-Nya “. (1) Atau bermakna pemberitahuan bahwa sesungguhnya dia memaksudkannya hendak mengungkapkan; ”Aku hendak membaca (surat al-Qur’an ini) dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikian juga ucapan seorang hamba ‘bismillah” tatkala hendak bangkit untuk tegak berdiri, atau hendak duduk, dan melakukan seluruh aktivitasnya, adalah mengabarkan makna dari maksud ucapannya itu tadi, dan bahwa ia memaksudkan dengan ucapan ‘bismillah’ adalah aku hendak berdiri dengan menyebut nama Alloh , aku hendak duduk dengan menyebut nama Alloh , demikian seterusnya pada seluruh aktivitasnya. (2)

Perintah dan Anjuran berbasmalah dalam al Qur’an
Alloh memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengucapkan basmalah tatkala hendak melakukan sebuah aktivitas. Sebagai misal, tatkala Alloh memerintahkan kepada nabi-Nya yang mulia Nuh agar menaiki perahu kapal yang telah dibuatnya atas perintah Alloh pula, maka Nabi Nuh memerintahkan kaumnya agar segera menaikinya dengan mengucapkan basmalah; sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh:

( Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Alloh di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Robbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud [11]: 41)

Misal yang lain adalah tatkala Alloh menurunkan wahyu pertama-Nya kepada Nabi Muhammad, yaitu firman Alloh Ta’ala:

Bacalah dengan (menyebut) nama Robbmu Yang Menciptakan. (QS. al-Alaq [96]: 1)

Dalam ayat ini, Alloh memerintahkan agar Nabi Muhammad membaca dan mengawali bacaannya dengan basmalah.

Perintah dan anjuran berbasmalah dalam sunnah

Demikian juga, kalau kita melihat sabda-sabda Rosululloh maka kita pun akan dapati begitu banyak perintah atau minimalnya anjuran beliau untuk mengawali beberapa aktivitas dengan basmalah.

Diantara hal-hal yang dianjurkan untuk membaca basmalah adalah pada waktu ;
1. Hendak berwudhu Berdasar sabda Rosululloh:

لاَ صَلاَة َلِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak sah sholatnya orang yang tidak berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut asma Alloh kepadanya.” (HR. Ibnu Majah 1/140/399 dan Abu Dawud 1/174/101, dihasankan oleh al-Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 320 dan dalam Irwa’ul Gholil 1/122)

2. Hendak keluar rumah Berdasarkan hadits dari sahabat Anas bahwa Nabi bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَي اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِيْنَئِذٍ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ، فَتَتَنَحَّي الشَّيَاطِيْنُ, فَيَقُوْلُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Alloh.’” Maka beliau melanjutkan sabdanya: “Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’” (HR. Abu Dawud 4/325 dan Tirmidzi 5/490. Lihat juga Shohih Tirmidzi 3/151 dan Shohihul Jami’: 6419)

3. Hendak makan Seperti yang tersebut dalam sebuah hadits dari Ummul Mu’minin Aisyah yang berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَاليَ، فَإِنَّ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فيِْ أَوِّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلِهِ وَأَخِرِهِ

Rosululloh bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Alloh Ta’ala. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Dengan nama Alloh di awal dan di akhir.’” (HR. Abu Dawud 3/347 dan Tirmidzi 4/288 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shohih.” Dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi 2/167 dan dalam Riyadhus Sholihin Kitab Adabuth Tho’am)

4. Hendak menggauli istri, sebagaimana hadits Abdulloh bin Abbas ia berkata: Nabi telah bersabda:

أَمَّا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُوْلُ حِيْنَ يَأْتِيْ أَهْلَهُ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُّمَّ قُدِرَ بَيْنَهُمَا فِيْ ذَلِكَ أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Adapun kalau seandainya salah seorang di antara mereka itu tatkala hendak menggauli istrinya mengucapkan: ‘Dengan menyebut nama Alloh, yaa Alloh jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan itu dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami’, lalu ditaqdirkan dia mendapat anak dari hubungannya tadi itu, tidak akan ada setan yang membahayakan anak itu selamanya.” (HR. Bukhori 1/141 dan Muslim 2/1028)

5. Hendak memasukkan mayit ke dalam kubur Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata: “Nabi Muhammad itu apabila memasukkan mayit ke dalam kuburnya berkata:

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَي سُنَّةِ رَسُوْلِ اللََّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh dan berdasarkan sunnah Rosululloh.” (HR. Abu Dawud 9/32/3197 dan Tirmidzi 2/255/1051 dan Ibnu Majah 1/494/1550, dishohihkan oleh al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hal. 152)

Dan masih banyak lagi tentunya anjuran beliau yang tidak terbatas hanya pada aktivitas yang tersebut di atas saja. Berkata syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi : “Dianjurkan bagi para hamba agar mengucapkan basmalah ketika hendak makan dan minum, juga ketika hendak memakai pakaian (dan melepasnya). Juga ketika hendak masuk dan keluar masjid, ketika hendak berkendaraan, dan bahkan ketika hendak melakukan setiap hal yang memiliki nilai arti penting.”(3)

Beberapa Faedah dan kandungan Hukum dari “Basmalah”

Dengan mentadabburi basmalah, yang merupakan bagian dari al-Qur’an, maka setidaknya kita bisa dapatkan beberapa faedah yang agung lagi utama, di antaranya; (4)

1. Kata بِسْمِ اللهِ terdapat faedah syari’at bertabarruk –mengharapkan barokah- kepada Alloh dengan nama-nama-Nya yang mana saja, sebab bila seseorang mengucapkan basmalah sebelum beraktivitas ini menunjukkan ia minta keberkahan kepada Alloh dengan nama-Nya pada aktivitasnya. Syeikh Abdurrohman As Sa’di dalam tafsirnya, Taisirul karimirrohman, mengatakan tentang makna berbasmalah ” aku mengawali membaca ini dengan memohon keberkahan kepada Alloh dengan setiap nama Alloh ”.

2. Kata بِسْمِ اللهِ juga memberi faedah bahwa seseorang itu hanya bertabarruk kepada Alloh saja dan tidak kepada selain-Nya.

3. Lafzhul jalalah الله, ialah nama yang khusus bagi Alloh , yaitu bermakna Dzat Yang Dipertuhankan, Yang diibadahi, Yang berhak diibadahi sebab keesaanNya, sebab adanya sifat-sifat yang Ia bersifat dengannya berupa sifat-sifat ketuhanan yang merupakan sifat kesempurnaan. (5)

4. Tetapnya sifat Rohmah bagi Alloh , seperti Alloh firmankan; Artinya: “Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat”. QS. al An’am[6]:133

5. Pada lafazh الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ terdapat faedah tentang sifat kerohmatan Alloh, الرَّحْمَنُ berarti Dzat Pemilik kerohmatan yang sangat luas, sedangkan الرَّحِيْمُ berarti Dzat Yang memberikan kerohmata-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki.

6. Di antara bentuk kerohmatan Alloh kepada para hamba adalah diperolehnya berbagai kebutuhan hidup di dunia yang mencukupi oleh para hamba ini, bahkan terkadang berlebishan melebihi kebutuhan mereka. Ini adalah kerohmatan Alloh yang bersifat umum bagi seluruh hamba-Nya, yang beriman dan yang tidak beriman.

7. Di antara bentuk kerohmatan Alloh kepada para hamba adalah diperolehnya segala hal yang dibutuhkan untuk kehidupan badan-badan mereka di dunia ini penuh kecukupan, dan di akhirat diberikan sesuatu yang menegakkan din-din mereka. Dan ini adalah kerohmatan Alloh yang bersifat khusus bagi hamba-Nya yang beriman saja.

8. Di antara bentuk kerohmatan Alloh kepada hambaNya yang beriman adalah dianjurkannya mereka berbasmalah, yang berarti dianjurkan untuk mengharapkan barokah Alloh Dzat Yang Maha Rohmat, Yang memiliki keluasan rohmat dan memberikan kerohmatanNya kepada para hambaNya.

9. Diantara faedah yang penting adalah, anjuran berbasmalah merupakan anjuran berdzikir kepada Alloh , dan berdzikir itu adalah salah satu jenis ibadah. Oleh karenanya ia tidak dilakukan kecuali harus sesuai dengan adab-adab berdzikir itu sendiri. Diantaranya tidak dilakukan dengan suara tinggi, tidak pula sekedar di dalam hati. Ia tidak dilakukan serempak bersama-sama sekumpulan jama’ah tertentu, tidak pula dijadikan pembuka acara-acara tertentu dan seterusnya. Sebab itu semua tidak didapati ajarannya maupun contohnya dari rosululloh , sehingga tidak layak dilakukan oleh kaum muslimin seluruhnya. Wallohu a’lam.

Inilah beberapa faedah yang bisa kita peroleh dari tadabbur kita terhadap basmalah ini, tentu ini adalah sangat kecil dan sedikit dibandingkan dengan keagungan lafazhnya dan kebesaran maknanya yang sesuai dengan Keagungan Alloh dan KebesaranNya, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, wabillahit taufiq.

__________________________________________________
(1) Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Aisarut tafasir, 1/11

(2) Ibnu Jarir Ath Thobary, Jamiul Bayan An Ta’wili Ayyil Qur’an, Dar Ihyai Turots Al Arobiy, 1/59,

(3) Aisarut Tafasir 1/12 oleh Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Dan dalam cacatan kaki nomor 2 beliau mengatakan: “Berdasarkan hadits كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يَبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ (Setiap hal yang memiliki nilai arti penting yang tidak diawali dengan basmalah maka hal itu akan sia-sia dari barokah). Dan hadits tersebut meskipun dho’if (lemah) namun sungguh dia itu diamalkan, sebab maknanya termasuk dalam hadits-hadits yang shohih.” Kami katakan: Syaikh Muhammad al-Utsaimin juga berdalil dengan hadits tersebut dalam Syarah Tsalatsatil Ushul. Beliau ditanya tentang hadits tersebut, maka beliau berkata: “Para ulama berselisih pendapat tentang keshohihannya, sebagian ahli ilmu menshohihkannya dan bersandar padanya semisal an-Nawawi, dan sebagian yang lain mendho’ifkannya. Akan tetapi, para ulama saling menyampaikan hadits ini dengan penerimaan dan meletakkannya dalam kitab-kitab mereka; hal ini menunjukkan bahwa hadits tersebut ada asalnya, maka yang seyogyanya bagi seseorang berbasmalah pada setiap hal yang penting atau mengawalinya dengan memuji Alloh Azza wa Jalla.” (Kitabul Ilmi, Syaikh Muhammad al-Utsaimin, hal. 153, cet. Daruts Tsuraya Riyadh. Lihat juga Syarah Tsalatsatil Ushul milik beliau juga dengan penerbit yang sama, hal. 17)

(4) Pada pembahasan faedah dan hukum basmalah ini silakan pembaca lihat penjelasannya secara lengkap oleh Syeikh Muhammad Al Utsaimin dalam tafsirnya 1/4-9, dan Ahkamun Minal Qur’anil Karim oleh beliau juga 1/13-14

Orang Bijak Berkata
” Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu. Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu. Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu. Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu. Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri.
Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya. “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s